https://sukabumi.times.co.id/
Berita

Karena Himpitan Ekonomi, Puluhan Warga Pacitan Pilih Jadi PMI ke Luar Negeri

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:35
Karena Himpitan Ekonomi, Puluhan Warga Pacitan Pilih Jadi PMI ke Luar Negeri Disdagnaker Pacitan saat melayani pengurusan dokumen agensi CPMI. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

TIMES SUKABUMI, PACITAN – Himpitan ekonomi dan lapangan kerja seret memaksa warga Kabupaten Pacitan harus mencari nafkah ke luar negeri. Sepanjang Januari 2026, sebanyak 25 orang tercatat mengurus keberangkatan sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke Malaysia, Taiwan dan Hong Kong.

Kepala Bidang Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinas Perdagangan, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disdagnaker) Kabupaten Pacitan, Supriyono, mengungkapkan, minat masyarakat untuk bekerja di luar negeri sejak awal tahun ini terbilang cukup tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Faktornya ekonomi. Kalau PMI di awal tahun ini yang sudah masuk sekitar 25 orang sampai hari ini,” ujar Supriyono, Rabu (28/1/2026).

Menurutnya, angka tersebut tergolong signifikan jika melihat waktu yang baru memasuki bulan pertama tahun 2026. Ia memprediksi jumlah PMI akan terus bertambah hingga akhir tahun jika tren ini berlanjut.

15 Warga Sempat Tertahan karena Dokumen

Supriyono juga mengungkapkan, dalam beberapa hari terakhir pihaknya sempat menunda keberangkatan belasan calon PMI karena kelengkapan dokumen belum terpenuhi. Salah satunya berasal dari Kecamatan Tegalombo.

“Tapi kemarin ada 15 orang dari Tahunan  tujuan ke Malaysia, dokumen belum lengkap saya suruh melengkapi dulu. Dua di antaranya perempuan, bagian dapur,” jelasnya.

Ia menegaskan, kelengkapan dokumen menjadi syarat mutlak sebelum warga diberangkatkan. Hal itu dilakukan untuk mencegah praktik pengiriman tenaga kerja ilegal serta meminimalkan risiko hukum di negara tujuan.

“Kita tidak bisa sembarangan memberangkatkan. Semua harus sesuai prosedur,” tegasnya.

Negara Tujuan Didominasi Asia

Berdasarkan data Disdagnaker Pacitan, mayoritas PMI asal daerah ini memilih negara-negara di kawasan Asia sebagai tujuan utama. Hong Kong, Taiwan, dan Malaysia masih menjadi destinasi favorit.

“Kebanyakan di Asia, Hongkong, Taiwan, Malaysia,” kata Supriyono.

Ia merinci, sektor pekerjaan yang digeluti PMI Pacitan di masing-masing negara relatif berbeda. Di Malaysia, sebagian besar bekerja di sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit. “Malaysia di perkebunan, kelapa sawit,” ujarnya.

Sementara itu, PMI yang berangkat ke Taiwan dan Hong Kong umumnya bekerja di sektor domestik atau nonformal sebagai asisten rumah tangga. “Taiwan dan Hongkong di asisten rumah tangga. Nonformal. Taiwan dan Hongkong perempuan,” imbuhnya.

Mayoritas Usia Produktif

Dari sisi usia, Supriyono menyebutkan, sebagian besar PMI Pacitan masih berada dalam usia produktif. Rata-rata berusia di bawah 40 tahun. “Ya, masih produktif. Kurang lebih di bawah usia 40,” tuturnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa banyak warga usia kerja memilih mencari peluang di luar negeri karena keterbatasan lapangan pekerjaan di daerah. Upah yang lebih tinggi juga menjadi daya tarik utama.

Seleksi Ketat Agen Penyalur

Untuk mencegah terjadinya kasus perdagangan orang, penipuan, maupun eksploitasi tenaga kerja, Disdagnaker Pacitan menerapkan sistem seleksi ketat terhadap perusahaan atau agen penyalur.

Supriyono menegaskan, pihaknya tidak hanya memeriksa dokumen calon PMI, tetapi juga melakukan verifikasi menyeluruh terhadap agen yang menyalurkan.

“Ya pada saat wawancara, kita tidak sampai tanya kenapa harus ke luar negeri dan sebagainya, cuman kita tanya di agensinya,” jelasnya.

Menurutnya, hanya agen yang memiliki rekam jejak baik dan legal yang diizinkan menyalurkan tenaga kerja asal Pacitan.

“Kita betul-betul selektif, jadi agensi ini benar-benar clear, nggak terkait dengan permasalahan PMI. Untuk izinnya tidak diblacklist sama kementerian, tidak ada catatan dari keimigrasian juga, kita cek, termasuk kaitannya nanti dengan BP2MI,” paparnya.

Langkah ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah daerah dalam melindungi warganya.

Perlindungan Hukum Jadi Prioritas

Selain seleksi agen, Disdagnaker Pacitan juga memastikan seluruh PMI mendapatkan perlindungan hukum sebelum diberangkatkan. Mulai dari kontrak kerja, jaminan sosial, hingga asuransi.

“Intinya kita melindungi PMI itu bilamana nanti berangkat itu kan sudah clear semuanya. Jadi perlindungan hukum terjamin,” tegas Supriyono.

Ia menambahkan, setiap PMI wajib memiliki kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan sebelum berangkat.

“Kalau asuransi, sebelum berangkat mereka harus mengurus BPJS itu wajib. Di situ nanti sudah meng-cover kecelakaan kerja, kematian. Minimal dua paket itu,” ujarnya.

Dengan adanya jaminan tersebut, PMI diharapkan memiliki rasa aman saat bekerja di luar negeri.

Faktor Ekonomi dan Kenyamanan Kerja

Lebih lanjut, Supriyono mengungkapkan, ada dua faktor utama yang mendorong warga Pacitan kembali atau terus bekerja di luar negeri. Pertama, faktor ekonomi. Kedua, kenyamanan kerja di negara tujuan.

“Pertama faktor ekonomi. Kedua, ada yang sudah merasa nyaman dan cocok kontrak dengan bos atau juragan negara tujuan,” jelasnya.

Banyak PMI yang memilih memperpanjang kontrak atau kembali bekerja di tempat yang sama karena merasa cocok dengan lingkungan kerja. “Merasa nyaman dan cocok, biasanya balik lagi ke sana,” katanya.

Kondisi tersebut membuat mobilitas PMI dari Pacitan ke luar negeri relatif stabil setiap tahun.

Potensi Lonjakan di 2026

Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, tren awal 2026 menunjukkan potensi peningkatan signifikan. Pada 2025 lalu, jumlah PMI asal Pacitan tercatat sekitar 182 orang.

“Melihat start awal tahun ini kayaknya ada peningkatan, karena di 2025 total sekitar 182 PMI. Ini baru Januari saja sudah 25, itu kan sudah banyak. Animonya ya banyak,” ungkap Supriyono.

Ia memprediksi, jika kondisi ekonomi lokal belum membaik secara signifikan, jumlah PMI pada 2026 bisa melampaui angka tahun sebelumnya. (*)

Pewarta : Yusuf Arifai
Editor : Ronny Wicaksono
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Sukabumi just now

Welcome to TIMES Sukabumi

TIMES Sukabumi is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.